Friday, July 21, 2006

 

Selamat Datang di Kampus Virtual Unciv



Selamat Datang
di Kampus Antropologi Unciv
di Kampus Kepahlawanan Unciv


" Hidup adalah Pilihan Pribadi "

Selamat Datang di Dunia Kepahlawanan

Ada 1000 cara menuju kematian, tapi cuma ada 1 cara menuju kehidupan
Ada 1000 jalan menuju ke Neraka, dan Ada pula 100 jalan menuju Surga,
tapi cuma Ada 1 jalan menggapai Surga Tertinggi.
Jalan itu adalah Jalan Para Nabi.
Jalan Kepahlawanan

Menu kita hari ini :
  1. Komentar Anda
  2. Penerimaan Mahasiswa Baru
  3. Profil KMT
  4. Profil Unciv
  5. Isu-Isu terhangat tentang KMT dan Unciv
  6. Artikel Unciv : Kolom Filsafat Kepahlawanan
  7. Artikel KMPS-1 : Kolom Spiritual Power
  8. Berita Kelas A-01
  9. Berita Kelas A-02

Thursday, June 22, 2006

 

Karena Hidup Hanya Sekali ...


Seberat apapun beban hidup kita hari ini ...
Sekuat apapun godaan yang harus kita hadapi ...
Sekokoh apapun cobaan yang harus kita jalani ...
Sebesar apapun kegagalan yang kita rasai ...
Sejenuh apapun hari-hari kita lalui ...

Jangan pernah berhenti berharap pada pertolongan Ilahi
Jangan pernah berhenti berdoa kepada Rabbi

Karena harapan adalah masa depan
Karena harapan adalah sumber kekuatan
Karena Do'a adalah senjata orang beriman

Kita mungkin pernah merasakan betapa tidak berartinya hidup ini, jenuh dan membosankan. Kita seperti manusia yang tidak ada gunanya lagi hidup di dunia. Hari-hari yang kita lalui hampa tiada arti. Kegagalan kita temui disana-sini. Cobaan dan rintangan kita hadapi tiada henti. Beban hidup terasa berat menjerat. Bagi mereka yang tidak punya iman, mengakhiri hidup yang indah ini seringkali menjadi pilihan.

Hidup ini hanya sekali, terlalu indah untuk kita buat sia-sia, karena memang Allah menciptakan makhluknya tidak untuk sia-sia. Betapa bahagianya hidup ini bila kita jalani dengan senyum kebahagiaan dan sikap ositif memandang masa depan. Betapa sejuknya bila kita sabar menghadapi setiap permasalahan, kemudian kita berusaha memecahkannya dan mengambil ibrah pelajaran dari setiap kejadian.

Sebuah pakupun akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama karat yang menyelimutinya. Tapi bila kita bisa menempatkannya di tempat yang tepat, kita tancapkan pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu berbagai benda.

Begitu pula kehidupan manusia. Bila kita tidak tepat menempatkan diri kita, tidak sadar siapa diri kita, tidak tahu untuk apa kita di dunia, kita hanyalah seonggok jasad hidup yang terlunta-lunta. Bila kita tidak manfaatkan potensi yang ada, selalu memandang negatif setiap peristiwa, membiarkan diri berlumur dosa, bahkan tidak tahu dengan Sang Pencipta, kita adalah makhluk hidup yang tidak berguna. Kemudian hidup ini pun terasa berat untuk kita lalui.

Masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman. Kembalilah kepada Tuhan bila kita menghadapinya agar kita tenang. Lihat, apakah kita sudah tepat menempatkan diri. Jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah. Tapi jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia. Walaupun kecil, tanpa paku itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri.

Bersemangatlah !!!
Hadapilah Takdirmu ... Tatap Tajam Rintangan ... Mundur Suatu Pantangan

Tuesday, June 20, 2006

 

Selalu saja, Ada Pilihan dalam Pilihan


Sebagian orang beranggapan bahwa Surga itu hanya satu dan sangat luas, padahal ia sangat banyak dan bertingkat-tingkat. Penghuninya menempati tingkat yang berbeda sesuai dengan tingkat keuatamaannya. Semakin tinggi tingkatan penghuni Surga, kenikmatan yang didapat juga lebih banyak.


"Sesungguhnya para penghuni tingkatan-tingkatan yang tinggi di Surga akan terlihat oleh penghuni yang berada di bawahnya laksana bintang-bintang di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk di antara mereka dan sangat bahagia." ( Al-Hadits )



Seperti kata pepatah,
"Selalu saja, ada Pilihan dalam Pilihan"

Maka, meyakini atau tidak meyakini akan adanya Surga adalah sebuah Pilihan Hidup. Di dalam pilihan hidup tersebut akan muncul pilihan hidup lagi. Bila kita memilih untuk meyakini surga, maka akan muncul pilihan baru lagi, apakah kita meyakini akan adanya surga tertinggi atau tidak.Yang jelas apapun pilihan Anda dalam hidup ini, akan selalu ada resiko yang harus dibayar. So, Please, Thinking Hard & Working Smart.

Akhirul kalam,
Life is Gambling but Gambling is not Life.
Kalla saya'lamun tsumma kalla saya'lamun.
Hanya KEMATIAN sajalah yang mampu Menjawabnya.

 

Belanjalah SEPUAS-PUASnya !!!


"Pasar Akhirat sekarang ini belum populer. Karenanya, belanjalah segera dan sepuas-puasnya selama keadaannya seperti itu, sebelum datangnya suatu hari yang mana segala dagangannya akan teramat menjadi mahal (atau langka), lalu kamu tidak bisa membeli sedikit saja darinya, apalagi dalam jumlah yang banyak "
( Salamah Bin Dinar )

 

Untuk Akhirat ... Jangan Setengah-Setengah !!!


Wahai Anak Adam, sesungguhnya kamu mencari dunia seperti tidak bisa hidup tanpanya, tetapi mencari akhirat seakan tidak membutuhkannya ( tidak serius ). Padahal kamu diberi cukup oleh Tuhanmu tentang duniamu, walaupun kamu tidak mencarinya, akan tetapi kamu akan mendapatkan akhiratmu hanya jika kau benar-benar berusaha mendapatkannya, maka renungkanlah urusanmu.
( Yahya Bin Muadz )

 

Do'aku Selalu, di Pagi Hari ...



Dan barangkali akan hamba temukan
Sampai pada penghabisan hari ini
Sebuah Istana-Mu
Dianugerahkan di saat kemenangan

Kesetresan telah mereda
Ketegangan telah mengendur
Kekalutan sudah menepi
Kesusahan telah tenggelam
Keperihan sudahlah sirna


Dan ...
Datang wewangian kesturi SURGA
Merekahlah kuncup-kuncup bunga
Menghadiahkan segelas kebahagiaan
Mencibir bibir hamba
Tersenyum manis
Bercanda ria
Berkelakar

Dan akan dirasakan segalanya
Yang dulu haram telah halal
Yang dulu jauh telah mendekat
Yang dulu kecut telah mewangi
Yang dulu pahit menjadi manis

Di bawah lindungan-Mu
Penuh harap hamba
Semoga tak karam di lautan ini
Yang menghadirkan istana sebelum istana-Mu
Yang barangkali akan membutakan mata hati
Mentulikan telinga
Membodohkan kalbu
Menutup mata penglihatan
Menghapus cerita-cerita buku hidup suci-Mu
Menjauhkan jarak istana-Mu

Ya Allah ... berilah hamba -Mu ini kekuatan
Tuk tapaki jalan Amanah Hidup Peradaban
Karena jalan dihadapan kini
terasa sepi, gelap, ganas dan menakutkan

Tak ada jalan lain,
demi Masa Depanku,
...
Demi Surga Tertinggi
Aku Harus Berani
Walau Seorang Diri
...
Ya Allah,
hamba menitipkan
tangisan jiwa ini Pada-Mu semata
Agar hamba sampai di halaman istana-Mu.

Friday, June 09, 2006

 

Mo KOMENTAR or TANYA-TANYA ???

Mo Komentar atau Kirim-Kirim Pertanyaan :

Langsung Saja lewat www.unciv.blogspot.com klik comments, ketik komentar atau pertanyaan Anda pada LEAVE YOUR COMMENT jangan lupa cantumkan nama Anda, lalu bila belum punya alamat bloger, klik anonymes. Terakhir Anda tinggal klik Published. Selesai. Selamat Mencoba !!!

atau

Kirim-krim komentar atau pertanyaan
ke No. HP : 0813-1066-7450

Wednesday, May 31, 2006

 



Ada 3 Tipe Sarjana :
Sarjana Penjahat, Sarjana Pekerja dan Sarjana Pahlawan.
Salah satu sebab utama dari terjadinya Krisis Bangsa ini adalah karena
Sistem Pendidikan Nasional, selama 60 tahun Kemerdekaan hanya bisa mencetak Sarjana-Sarjana Penjahat atau Sarjana-Sarjana Pekerja.





 

PROFIL Lembaga KMT



KMT adalah sebuah Potret “Lembaga Antropologi Sosial-Budaya”

Community Development – ”Cultural State”

Latar Belakang

Salah satu kajian dari Fiqih Ukhuwah membagi 4 tipologi masyarakat Islami, yaitu Masyarakat Ta’aruf, Masyarakat Tafahum, Masyarakat Ta’awun dan Masyarakat Takaful. Kini sudah begitu banyak Lembaga-Lembaga Dakwah bermunculan yang berfokus pada pembentukan Masyarakat Ta’aruf, ada lagi pada Masyarakat Tafahum, dan ada lagi pada Masyarakat Ta’awun. Biasanya mereka bercirikan Politik ( Baik Praktis maupun Non-Praktis ), karenanya, semangat yang hendak dibawapun adalah semangat politik yaitu semangat heterogenisasi. Sasarannya adalah membangun ‘Kerajaan’ Material ( baca : Dunia ). Tapi, sepanjang pengetahuan kami, jarang bahkan bisa jadi belum ada, Lembaga Dakwah yang secara khusus memfokuskan diri pada pembentukan Masyarakat Islam Takaful atau Masyarakat Sama Rasa Sama Rata ( Masyarakat Tanpa Kelas ) baik dalam bidang Intelektual, Spiritual maupun Kapital / Material. Eksesnya, Lembaga Dakwah tersebut haruslah bercirikan Kultural atau membawa semangat-semangat Homogenisasi baik aspek Ilmiah, Robbaniyah maupun Ukhuwah. Bila cara-cara Politik lebih mengutamakan cara-cara Evolusi atau Reformasi dalam wujud Pemberdayaan Sosial (Global Society Empowerment), maka cara-cara Kultural lebih mengutamakan cara-cara Revolusi dalam wujud Pendigdayaan Pribadi (Local Society Enforcement), melalui Revolusi Intelektual, Revolusi Spiritual maupun Revolusi Kapital / Material. Untuk itulah, hadirlah KMT, dlm rangka memenuhi Kebutuhan Hidup Pendigdayaan Diri, selain Kebutuhan Hidup Pemberdayaan Sosial yang sudah ada. Kesemua hal tersebut, mencerminkan fitrah manusia itu sendiri sebagai Makhluk Sosial juga sebagai Makhluk Individu,makhluk yang memiliki cita-cita sosial tapi juga tidak melupakan cita-cita individual. Sunnatullah berlaku There is The Crazy Plan from The Crazy Dream. Sebuah Rencana Radikal, selalu lahir dari Impian Radikal. Masyarakat Takaful atau Masyarakat Muslim Tanpa Kelas adalah Rencana Radikal sebagaimana Radikalnya impian menggapai Surga Tertinggi, Surga No.1.

Posisi

KMT sebagai Lembaga Kultural ( bukan Lembaga Politikal )

Fungsi

KMT adalah Kebutuhan Kultural yang berfungsi sbg Pelengkap Kebutuhan Sosial ( Politikal) yang sudah ada, dengan Kebutuhan yg bersifat Individual, oleh karena itu KMT bersifat sangat Pribadi/Privat/Kultural.

Visi

MSN-1 ( Masuk Surga No.1 ), KMT memiliki visi Gapai Surga Tertinggi, Memastikan semua anggota komunitasnya dapat menggapai Surga No.1, Surga Tertinggi.
Bila Hak Allah adalah memutuskan , maka Kewajiban manusia adalah memastikan.

Misi

Mempersembahkan dihadapan Allah SWT … Model Masyarakat Kepahlawanan sebagai Masyarakat Muslim Kultural dalam bentuk Masyarakat Muslim Takaful Sama Rasa Sama Rata Masyarakat Muslim Tanpa Kelas Sama Cita Sama Cinta, One Soul One Struggle Senasib Sepenanggungan.

Misi Khusus

  • Mewujudkan Masyarakat “N-G-U” ( Masyarakat Never Give Up ) dengan bercirikan karakter : ”TENANG – SIBUK – SIGAP – MALU”
  • Mewujudkan Masyarakat ber-Pola Hidup “STW+BKB”
  • Mewujudkan Masyarakat O-S-D ( Organis – Sinergis-Dinamis ) S-M-P ( Sukses Mandiri Produktif ), Takaful ( Sama Rasa – Sama Rata ) Masyarakat Muslim Tanpa Kelas
  • Mewujudkan Masyarakat Pembelar & Pekerja, Lebih Cinta Belajar daripada Gelar, Lebih Cinta Bekerja daripada Uang.
  • Mewujudkan Masyarakat Manfaat : Penebar Kedamaian & Perdamaian bagi Masyarakat lainnya.

Strategi

  • Local Society Enforcement – Pendigdayaan Internal – Tegas kpd Pribadi.
  • Global Society Empowerment – Pemberdayaan Eksternal - Toleran kpd Sosial.

Struktur & Bidang Program

Majelis Syuro KMT

Presiden KMT

Biro-Biro RISET - LitBang :

  • Biro RISET - Litbang Filsafat – Mistisisme : KMPS-1
  • Biro RISET - LitBang Filsafat – SainTek : PS-KU

Departemen-Departemen :

  • Menteri Pendidikan ( Aspek Belajar ) : Pre-Unciv dan Unciv ( Universitas Peradaban )
  • Menteri Sosial, Kesehatan & Pembangunan (Aspek Komitmen) : RS-Q, KMPS-1, PS-KU ( Sensus dan JamSosCom )
  • Menteri Ekonomi & Lapangan Kerja ( Aspek Bertindak ) : LPPK ( Lembaga Pengembangan Profesi & Kewirausahaan )
  • Menteri Kom-Info ( Komunikasi & Informasi ) : COR-eL (Cordova Library) & PCP (Pustaka Cahaya Peradaban)
  • Menteri Keuangan : MZi (Masyarakat Zakat Indonesia), BMT-Bangun Peradaban


Dalam Konsep Antropologi, Prinsip Holistik menjadi Prinsip Utama,
oleh karena itu, untuk mengembangkan Konsep Antropologi Pendidikan Universitas Peradaban, jika dan hanya jika membutuhkan pengembangan Antropologi Ekonomi dan Antropologi Sosial Budaya ( Cultural State )


 

Profil Universitas Peradaban

Un-Civ adalah sebuah Potret “Lembaga Antropologi Pendidikan”

Ciri Khas

Universitas Peradaban adalah Kampus Kepahlawanan ( Filsafat Antropologi )

Tujuan

Mencetak Sarjana-Sarjana “Kepahlawanan” Pejuang Peradaban yaitu Sarjana-Sarjana yang memiliki Cita-Cita belajar & hidup menggapai Surga Tertinggi dengan menjadi Pahlawan Mukmin Sejati yg memiliki Intelegensi Paripurna (SQ-EQ-IQ-PQ) & Solidarity yg tinggi & kuat dalam Bidang Kepahlawanannya serta selalu siap menjadi “Syuhada Peradaban” dimana & kapanpun juga berada dengan cara terus menerus Never-Give-Up ( Tenang-Sibuk-Sigap-Malu) pro-aktif “STW+BKB” membangun Peradaban, mewarisinya dan mampu “Mengentaskan Kemiskinan Umat” lewat pengembangan bidang kepahla wanannya, yg kesemua itu dlm rangka menggapai Surga no.1, Surga Tertinggi.

Konsep Pendidikan

PEDAGOGI PEMBEBASAN,

Menolak Kapitalisasi Pendidikan & menolak peng-Kebirisasian Pendidikan,
Menolak Westernisasi Pendidikan & menolak Orientalisme-sisasi Pendidikan.

Metode Pendidikan

Total Antropologi Pendidikan ( Metode Oksidentalisme )

( Sakralisasi Pendidikan – Profanisasi Sekolah )

“Sains for Amal” (Sakralisasi Pendidikan)

Bukan “Sains for Sains” (Profanisasi Pendidikan)

Misi

Menyelamatkan Pendidikan dan Menyelamatkan Umat

Sejarah Pendidikan Unciv

“Tidaklah mudah melahirkan Unciv sekaligus, terutama ke tengah masyarakat yang secara tidak sadar berpola pikir Sosiologis ( Western dan Orientalis )”

Setelah melewati masa-masa transisi yang melelahkan & menegangkan, baru sejak tahun 2006, Unciv baru bisa mengGo-Publikan diri & seluruh komitmen/konsepnya secara utuh & baru bisa konsisten atas komitmen awalnya, Kuliah Gratis-Berkualitas (Benar–Benar Gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun dan Benar – Benar serius menegakkan “Supremasi Pendidikan” dengan menerapkan konsep pendidikannya yang serius dan disiplin ).

Ada 1000 cara menuju Kematian, tapi hanya ada 1 cara menuju Kehidupan
Ada 1000 jalan menggapai Neraka, & ada pula 100 jalan menggapai Surga,
tapi cuma ada 1 jalan menggapai Surga Tertinggi.

Jalan itu adalah Jalan Kepahlawanan. Jalan Para Nabi




 

PENGORBANAN ...


Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahamnnya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelemahannya, niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu "tertelan" oleh kebaikan dan kekuatannya.

Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.

Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan perfmance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat yang lain"

Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampaui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.

Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia bertemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran.

Maka, keempat makna dan sifat ini - rasa tanggung jawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggungjawab keagamaan (semacam semangat peyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.

Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Quthb, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."

Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syakib Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, "Karena," kata Syakib Arselan, "orang-orang Barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan Kaum Muslimin bagi agamanya."

Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.

Tuesday, May 30, 2006

 

KESABARAN ...

Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan. maka, ulama kita dulu mengatakan, "Keberanian itu sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat."

Resiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus menerus. Itulah yang dimaksud Allah SWT dalam firman-Nya,
"... Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir." (Al-Anfal : 65).

Ada banyak pemberani yang tidak dapat mengakhiri hidupnya sebagai pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi, keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Akan tetapi, kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah SWT ini, "Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami." (As-Sajadah:24).

Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Al-Qur'an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketika Ia mengatakan, "Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu." (Al-Baqarah:45).

Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaranlah pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.

Akan tetapi, kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya, "Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama" ( HR.Bukhari dan Muslim ).

Jadi, pahitnya dari kesabaran itu hanya permualaannya. Sebab, kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. "Mereka memanahku itu hanya menembus panah," kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.

Mereka yang memiliki naluri kepahlawanan dan keberanian harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal ; ketaatan, meninggalkan maksiat, atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim, "Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya."



 

KEBERANIAN ...


Saudara yang paling dekat dari Naluri Kepahlawan adalah Keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tak ada keberanian tanpa resiko.

Naluri Kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Akan tetapi, keberanian adalah batang yang menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan resiko yang akan diterimanya.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam Al-Qur'an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Cobalah perhatikan betapa Al-Qur'an memuji ketegaran dalam perang, dan sebaliknya membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada resiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits riwayat Muslim ini, "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang ?" Adakah makna lain, selain dari kuatnya keberanian akan mendekatkan kita ke surga ? Maka, dengarlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang, "Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang . Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun latihan, selalu mendapatkan pijakan kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu dengan Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya, seperti jenis keberanian Ibnu Mas'ud dan Abu Bakar. Sebaliknya, ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keneranian Umar, Ali dan Khalid.

Akan tetapi, Islam memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka, beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah saw, "Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika ia tak mampu berenang."

Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka, dengarlah nasehat Umar, "AJarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."

Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinasrin, Khalid berkata, "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian." Roh keberanian itupun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini ?


 

NALURI KEPAHLAWANAN ...


Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.

Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.

Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.

Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu : Ini untukku. Atau seperti ungkapan orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang diceritakan Al-Qur'an.

"Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongan-golongan yang saling bersekutu itu, (dalam menghadapi orang-orang beriman), mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan ketundukkan." (Al-Ahzab : 22).

Naluri kepahlawan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Dan jika ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengekspolarasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Dalam serial Jenius-jenius Islam, Abbas Mahmud Al-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar As-Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata Al-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. Ia berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia itu ? Saya tidak tahu.

 

O, Pahlawan Negeriku

Dimasa pembangunan ini, "kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, "Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api."

Kita selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.

Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, "telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah." Pahlawan yang kata Chairil Anwar, "berselempang semangat yang tak bisa mati, " Pahlawan yang akan membacakan "Pernyataan" Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah bangkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan

Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya. Untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang ke makam para shahabat Rosulullah saw di Baqi' dan Uhud, di Madinah. karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka :

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai-nilai tulang-tulang berserakan

Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka ? Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, "merelakan kalian pergi menyempurnakan ... Kemerdekaan negeri ini."

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, "Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?"

Tidak ! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata : Jadilah Pahlawan itu !!!.

Monday, May 29, 2006

 

PEDAGOGI KAUM PINGGIRAN

Membicarakan ilmu-ilmu sosial transformatif kaitannya dengan perspektif pedagogis rasanya tidak mungkin mengabaikan kritik bahwa peran sekolah sebenarnya telah gagal mengantarkan anak didik sebagai subyek pembelajaran manusia atas keseluruhan proses hidup dan kehidupannya.

Dalam antropologi pendidikan, proses semacam ini disebut sebagai inkulturasi dan akulturasi, yang menyangkut semua perkembangan anak manusia tatkala mereka melakukan adaptasi lingkungan dan bagaimana proses reproduksi kebudayaan berlangsung dalam masyarakat sesuai dengan tata nilai dan norma-norma yang mereka miliki.

Maksud saya, jika pedagogi dimaknai lebih dari sekadar mendeposit ilmu pengetahuan dalam sistem didaktik-metodik sekolah, sudah tentu pengertian tentang pembelajaran haruslah meliputi wilayah yang luas,
seluas persoalan cultural reproduction and reform dan sekaligus juga menyangkut social reform and transformation. Upaya pembelajaran anak manusia tidak bisa dilepaskan selain sebagai kerja budaya, juga
sebagai kerja politik agar mereka yang selama ini tertindas oleh budaya bisu dapat belajar bicara dan mereka yang terpinggirkan oleh struktur sosial mempunyai harapan untuk berubah sekaligus memiliki kekuatan sosial yang bisa menggerakkan humanisasi manusia yang lebih bermartabat dan berharkat.

Pedagogi transformatif

Dalam filosofi pedagogi transformatif, pembelajaran merupakan pembongkaran terhadap semua bentuk kesadaran budaya dalam rangka menumbuhkan kesadaran budaya yang baru. Kerja pedagogis tidak lain
adalah bentuk upaya memfasilitasi setiap subyek agar tumbuh dan berkembang sebagai human agency atau persona creativita, yang sadar akan habitus-nya masing-masing dan bagaimana mereka memiliki
kemampuan untuk mengubahnya sehingga subyek-subyek ini tidak mati dan menyerah terhadap jebakan struktural yang diwarisinya sejak lahir.

Sekarang ini praktik "pendidikan" yang identik dengan menyelenggarakan "sekolah", bahkan juga pendidikan "luar sekolah", biasanya mengabaikan bangunan konsep pedagogis yang utuh. Seolah-olah pembelajaran adalah sama halnya berhubungan dengan proses belajar mengajar dalam bingkai silabus atau kurikulum agar murid dapat mengonsumsi ilmu pengetahuan sekenyang-kenyangnya dalam ruang belajar yang terikat. Begitu pula pendidikan life skill yang sekadar memberikan ilmu keterampilan dalam balai latihan tertentu yang dirancang dari luar dan sama sekali tidak ada proses kontrak belajar yang lebih partisipatoris dan dialogis.

Gampangnya, wajah pembelajaran yang berkembang selama ini adalah bagaimana anak-anak didik di sekolah dapat dicekoki dengan berbagai knowledge about sebagai persiapan spekulatif anak-anak didik memasuki lapangan kerja (terutama dengan standardisasi atau akreditasi bakal calon buruh kapitalisme global), sementara pendidikan luar sekolah lebih menekankan bagaimana menawarkan berbagai program knowledge for, yang juga spekulatif melalui sertifikasi agar pesertanya dianggap mempunyai kompetensi lebih jelas dalam proses penyerapan pasar kerjadi lingkungan pabrik atau industri.

Dalam kaitan itu, pedagogi harus mengambil tempat pada pengalaman dan kesadaran umat manusia yang luas karena setiap persoalan yang berkaitan dengan hubungan hegemoni pada dasarnya adalah persoalan
pedagogis kemanusiaan. Dalam bahasa Freire, pembicaraan pedagogis tidak boleh semata-mata dipersempit hanya menyangkut soal metodologis sebab cita- citanya lebih jauh menyangkut pemihakan teori ilmu-ilmu sosial untuk mempersiapkan masa depan sejarah yang lebih emansipatoris untuk keadilan, melalui revitalisasi individu maupun kelompok sebagai agen perubahan sejarah itu sendiri. Inilah, sekali
lagi, maka pembelajaran kritis pada dasarnya adalah bagaimana membawa proses pedagogis menjadi lebih berpolitis dan masalah politis mempunyai basis pedagogisnya sebagai kerja budaya dan humanisasi.

Biarpun pedagogi kritis perhatiannya memang terhadap subyek sebagai proses self-improvement, tetapi itu tidak berarti berhenti pada individunya sebab visinya adalah untuk melahirkan kekuatan kolektif bagi transformasi sosial. Jadi, diskursusnya harus menyangkut proyek membangun citizenship sebagai "a social invention" yang membutuhkan sejumlah pengetahuan politik?suatu pengetahuan yang lahir dari pergumulan dan pergulatan hidup orang-orang yang melakukan pembelajaran kritis ini sendiri.

Pengetahuan dan kesadaran semacam itu muncul karena proses pembelajaran "hadap-masalah" terhadap realitas sehari- hari, termasuk bagaimana memahami tantangan material ekonomi, kritik politik-ideologis, dan tekanan-tekanan hidup yang bersifat psikologis. Dengan demikian, bagi orang-orang yang melakukan pembelajaran kritis ini, ilmu pengetahuan yang diperolehnya haruslah sungguh-sungguh berarti (of making knowledge meaningful) agar memberikan spirit hidup baru yang berwatak transformatif.

Pedagogi transformatif boleh dibilang merupakan bagian untuk membangun intelektual publik (as public intelectuals), dalam arti pendidikan bagi orang-orang dewasa yang berorientasi pada basis komunitas (a community base-education). Sudah barang tentu berbeda dengan paradigma pendidikan yang menekankan pentingnya pengembangan "sumber daya manusia (SDM)" sebagai tujuan paling pokok karena orientasinya lebih peduli pada upaya meningkatkan produktivitas ekonomi dan stabilitas sosial (dan menganggap masyarakat sebagai mesin dan orang-orang dipandang sebagai "human resourses" yang nilainya tergantung seberapa jauh kontribusinya dalam the social machinery dalam rangka efisiensi), maka dalam perspektif pembelajaran kritis bukanlah merasa penting menekankan bagaimana melakukan penggolongan (classified), penyortiran (sorted), dan penajaman bakat (shaped), serta kompetensi manusia sebagai the raw
human resources untuk dikirim ke pasar kerja. Namun, yang terpenting adalah bagaimana memfasilitasi agar subyek peserta menjadi individu-individu yang otonom, atau menjadi ownership of self bagi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, pedagogi transformatif sesungguhnya secara metodologis tidak lagi berbasis secara eksklusif pada "epistemological questions", tetapi lebih pada "an economic and socio-cultural mode of analysis" yang bisa menerangkan dan membongkar proses alienasi dan marjinalisasi sosial. Dengan demikian, dalam pembelajaran kritis yang diutamakan bukanlah program praktik melek huruf (the practice of a literacy training program), tetapi bagaimana seseorang dapat melakukan refleksi kritis, baik berpikir maupun dalam mengambil praksis untuk pemerdekaan. Refleksi atas self-reflection inilah yang oleh Freire dikatakan sebagai basis setiap orang menuju dunia baru, dengan knowing menuju proses becoming, bagian dari human being yang otentik yang sering lemah dan hilang karena tertutup beban struktural dan kesadaran palsu. Namun, sekali lagi, keseluruhan bangunan pedagogis transformatif yang dialogis, hadap-masalah, dan menekankan praksis kemanusiaan haruslah diletakkan tetap dalam suatu utopian yang bersifat pemerdekaan dan kesetaraan sesuai dengan panggilan ontologisnya sebagai khalifatu fi al-ardh.

Memihak "mustadzafin"

Saya melihat proses marjinalisasi sosial semakin melahirkan berbagai jenis the new mustadzafin, yakni ragamnya komunitas orang-orang pinggiran. Tidak hanya kaum miskin dan fakir, tetapi juga anak-anak
jalanan, kaum buruh, dan TKI yang nasibnya tak terlindungi dan berisiko tinggi. Bahkan dalam kelompok yang disebut "kaum pinggiran" ini, banyak komunitas petani di pedesaan seperti penderes gula aren dan siwalan yang merupakan "orang-orang nomad lokal", yang setiap pagi pergi dengan seluruh anggota keluarganya (termasuk binatang pemeliharaannya) meninggalkan desanya dan pulang menjelang matahari
terbenam. Mereka seharian berada di sekitar ladang aren dan siwalannya, termasuk anak-anak yang sebenarnya masih dalam usia sekolah.

Begitu pula, kita memiliki kelompok suku-suku bangsa, seperti Badui, Tengger, Sakai, dan banyak lagi, seolah-olah mereka adalah bangsa yang "ditinggalkan", baik oleh negara maupun oleh proses modernisasi.
Sudah barang tentu, dalam paradigma humanisme modern dan dalam filosofi pendidikan liberal mereka dianggap obyek yang harus di-"majukan" dan bukan diberi ruang politik bagaimana agar dapat ikut serta dalam proses multikulturalime dan dialog peradaban yang hidup bersama dalam negara bangsa yang modern.

Masih banyak dan panjang deskripsi yang bisa dibuat untuk mengenali siapa kaum pinggiran ini, tetapi saya kira langkah dan rintisan pedagogis buat mereka, sejauh ini masih miskin sekali. Bahkan yang lebih tragis, semua pencarian pedagogis yang pernah lahir di Indonesia, seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, pesantren, Kayu Tanam di Sumatera, kini redup dan hilang disapu oleh ganasnya sistem sekolah yang dipaksakan negara demi ikut serta dalam menyokong pertumbuhan ekonomi kapitalisme global.

Akan tetapi, apa hendak dikata, hasilnya kini "sekolah" boleh dibilang telah gagal mengantarkan anak-anak didik mengambil peran sosialnya, juga gagal masuk ke dalam bursa lapangan kerja di sektor modern dan juga gagal menjadi produsen ilmu yang diterimanya dengan paksa di ruang-ruang kelasnya.

Maka, saya kira, saatnya kita semua harus lebih serius bekerja sama untuk mengembangkan konsep dan model praksis "pedagogi kaum pinggiran" ini, dengan menggabungkan semua perspektif humanisme,
apakah yang berasal dari teologi, kritik-ideologi, atau dari tradisi pemikiran sosial emansipatoris sehingga kaum pinggiran memiliki penjelasannya sendiri mengapa mereka terpinggirkan dan dengan praksis apa mereka mempunyai harapan untuk memberdayakan diri dan kelompoknya.

Jika tidak, saya khawatir tetap saja orang miskin akan tetap miskin, paling kurang dalam tiga hal, yakni miskinnya rasionalisasi makna hidup tentang siapa dia, miskinnya kesadaran kolektif, dan miskinnya institusi, baik politik, sosial, dan agama, yang dapat digunakan sebagai kekuatan mereka sendiri untuk melakukan transformasi sosial.

Oleh Moeslim Abdurrahman
Antropolog, Ketua al Maun Institute, Jakarta


This page is powered by Blogger. Isn't yours?